maLuLupa - Situs gratis milik bersama yang menjadi wadah serta ruang bagi siapa saja yang ingin berbagi inspirasi, kreativitas, promosi juga berekspresi secara bebas dan tanpa biaya, namun tetap mengedepankan tatacara yang baik serta tidak mengganggu kenyamanan bersama! Berhubung situs masih dalam proses pengembangan, terdapat beberapa halaman yang belum bisa diakses dengan sempurna, silahkan update halaman kami di lain waktu, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
Admin

Mengejar Impian


Meraih segala hal baik yang menjadi fokus di hari kemarin untuk dinikmati di hari ini. Begitulah cara berfikir kebanyakan orang yang sering disebut dengan menggapai cita-cita. 

Sepintas terbayang sangatlah indah, saat semua keinginan kita menjadi kenyataan dan segala apapun yang kita harapkan bisa terwujud. 

Namun, yang menjadi persoalan disini adalah menumpuknya fokus-fokus pikiran di hari kemarin, dua hari yang lalu, minggu lalu, bulan lalu bahkan fokus kita tahun lalu yang sampai saat ini belum bisa diwujudkan apalagi dinikmati. 

Hasilnya, segudang keinginan yang tadinya menjadi semangat hidup kini berubah menjadi hal buruk yang terus membayangi dan tak mau lepas, seolah menjadi beban berat yang terpikul dalam menjalani hidup saat ini. 

Yang tanpa disadari menjadi benteng kokoh dan penghalang sudut pandang kita dalam mengelolah pikiran-pikiran sederhana untuk mengubahnya menjadi senjata ampuh dalam bertindak dan mengambil keputusan pada banyaknya kesempatan baru yang sebenarnya telah berlalu-lalang setiap waktu didekat kita saat ini. 

Yang bukan tidak mungkin, kesempatan kecil yang sudah kita lewatkan itu ternyata adalah hal yang akan membawa kita menjadi lebih besar.


Saya jadi teringat akan sebuah potongan curahan hati dari seorang pemuda berusia 25 tahun saat tulisan ini dibuat, yang juga termasuk salah satu sahabat saya. Berikut ceritanya...



_____________ _ _ _ _
Sore ini aku masih sama seperti aku di sore kemarin, masih dengan segala kondisi dan keadaan yang persis sama. 

Banyaknya hal yang belum tercapai dan beragamnya proses yang sudah aku lalui, tetap saja belum membuatku menemukan cara bagaimana agar aku segera mencapai tujuan yang kuharapkan. 

Berbagai macam dampak buruk pun juga telah menimpaku terkait keadaan hidupku yang masih seperti saat ini. 

Padahal bermacam cara yang menurutku hebat telah kulakukan, baik itu saran dari orang lain yang ku anggap lebih pintar dariku maupun dari hasil pemikiran-pemikiran hebatku sendiri. 

Namun, sampai sekarang harapan-harapan tersebut belum juga terwujud.

Dan tak bisa aku ingkari, kini aku mulai kehabisan tenaga. Ditambah dengan peristiwa-peristiwa disekelilingku yang semakin melunturkan semangatku. 

Contohnya saja seorang teman yang dulu sama keadaanya denganku dan menurutku lebih lemah dariku, tapi kini sudah jauh berbeda kehidupannya denganku. 

Beberapa fokus tujuannya yang pernah diceritakan kepadaku beberapa tahun yang lalu, kini terlihat sebagian telah terwujud. 

Walau belum seluruhnya terwujud, namun terlihat hidupnya begitu ringan. Berbeda denganku yang semakin hari rasanya semakin berat. 

Hal ini membuatku semakin bingung dalam kelemahanku. Berselang beberapa waktu yang lalu, tanpa disengaja, kami duduk bersebelahan di warung kopi, tempat biasa dulu kami sering berkumpul bersama teman-teman yang lain. 

Dan dia pun menghampiriku lalu kami pun memulai obrolan santai. Sesaat setelah itu, kuberanikan diri menanyakan beberapa hal kepadanya, apa yang sudah dilakukannya selama ini dan apa yang membuatnya masih terus bertahan dalam kesulitan yang relatif sama denganku.

Perkataan awal yang diucapkannya adalah, "aku tidak mau terlalu fokus pada keinginanku, tapi aku memang gemar mengambil kesempatan!", walau kesempatan terdekat yang akan diambil tidak ada kaitannya dengan fokus utamanya. 

Namun ternyata hal sederhana inilah yang membuatnya menjalani berbagai kondisi dengan tenang dan ringan, namun perlahan-lahan apa yang diinginkannya bisa terwujud. 

Terlihat dia coba sudah memulai jawaban bijaksananya, dengan sebelumnya mengambil secangkir kopi hangat untuk meminumnya perlahan, lalu melanjutkan penjelasannya.

Contoh nyata yang diberikannya adalah, saat kita fokus ingin memiliki sebuah sepeda, yang dipikirkannya pertama kali adalah melibatkan Tuhan dalam niatnya, dengan nada ringan dia mengatakan "tentu saja dimulai dengan berdoa kepada Tuhan dong...", -'diapun tersenyum sambil memegang pundakku'-. Dengan gaya bergurau, dia mengingatkanku agar aku selalu dekat dan pandai berterimakasih kepada Tuhan

Lalu diapun menegaskan kembali apa yang terkonsep didalam pikirannya dengan mengetahui bagaimana caranya merawat sepeda, hal apa saja yang akan membuat sepeda itu terlihat lebih bagus dari sepeda-sepeda yang lain, bagaimana agar sepeda yang akan dimilkinya tetap dalam kondisi baik dalam beberapa tahun kedepan. 

Dan jika sudah mulai bosan, bagaimana cara menggantinya dengan yang lebih baik namun dengan harga yang tidak terlalu jauh dibawah saat kita membelinya, dan banyak lagi hal lain. -'Sambil sesekali menyenggol pundakku'-, dia kembali menyentil pikiranku "hidup jangan serius-serius banget kawan..., hehe..!" -'seolah dia ingin membuat percakapan ini santai'-.








Dari perumpamaan awal dan singkat darinya ini saja sudah sangat inspiratif bagiku, bahkan mulai membuka pikiranku, ternyata saat kita memiliki satu keinginan atau satu harapan saja, sebenarnya dengan sendirinya kita sudah dihampiri banyak peluang yang bisa diambil.  

Dan sebelum kami melanjutkan percakapan, aku sudah mulai paham arah pembicaraan dan konsep cara berpikirnya. 

Saat kita ingin memiliki sebuah sepeda namun belum memilki cukup uang untuk membelinya, sebenarnya kita bisa mengembangkan uang yang sekarang kita miliki dengan membuka usaha jasa perawatan sepeda atau menjual asesorisnya. 

Dan setelah mendapat keuntungan, kita bisa menggunakan keuntungan tersebut untuk membeli sebuah sepeda. 

Atau jika dengan konsep seperti ini, tidak perlu diam terlalu lama untuk menunggu uang kita cukup agar bisa membeli sepeda dengan kondisi yang utuh, aku mala berpikir, bisa saja kita mencicilnya. 

Mungkin dengan cara lebih dahulu membeli rodanya, atau membeli bagian yang lebih sederhana dari sebuah sepeda. Contohnya saja tutup pentil angin roda sepedanya, "hehe..."

Dan menurutku konsep pola berpikir sederhana perihal sepeda ini, adalah konsep dasar berpikir sederhana dalam memulai analisa persoalan apapun di kehidupan kita sehari-hari. 

Misal saja saat kita ingin memiliki sebuah mobil, rumah, atau dalam menentukan pilihan jenis usaha. 

Tentu dengan konsep yang tidak terlalu jauh berbeda.    

-'Aku pun tersenyum kecil dibarengi dengan semangat baru yang berkobar-kobar didadaku'-. Sekarang aku baru sadar, apa yang menjadi kelemahanku selama ini. 


Dan ternyata aku telah melakukan kesalahan yang cukup besar. Dan kini aku pun tahu, jika fokusku pada keinginan memang sudah benar, namun ternyata caraku mengelolah fokus yang masih salah. 

Caraku yang hanya fokus pada hasil akhirnya tetapi tidak bersungguh-sungguh memahami langkah-langkah bagaimana seharusnya aku sudah bisa menikmati impianku walaupun masih dalam proses perjalanan pencapaian. 

Semua memang harus dimulai dari hal kecil yang paling dekat dengan kita, yaitu mengubah hal yang paling sederhana menjadi potensi yang menguntungkan. 

Hal inilah yang sudah aku abaikan selama ini.

Dan mulai sekarang, aku harus berusaha menyederhanakan semua hal yang terlihat sulit. -'Dengan wajah sedikit bersinar pemuda ini mencicipi kopinya sambil melirik sepotong kue coklat yang masih hangat dan siap untuk mengubah konsep berpikirnya'-.


_ _ _ _ _ ____________



"Jangan sibuk 
mengejar keinginan,
tapi gemarlah 
mengambil kesempatan..."


Nah sekarang, bagaimana penilaian Anda mengenai potongan curahan hati diatas?

Saya mencoba mengambil pelajaran, bahwa cara bepikir sederhana ternyata mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, mampu membuat dampak baik yang luar biasa. 

Banyak yang bisa kita temukan juga lakukan saat kita menyederhanakan banyak hal yang terlihat sulit, tapi sering kali kita mengabaikannya. 

Kadang kita lebih memilih memulai sesuatu hal yang besar dengan segala macam strategi yang rumit, namun, sering kali kita berhenti ditengah jalan karena tenaga yang kita perlukan sudah terlanjur habis sebelum sampai di tujuan. 

Jika saya ingat lagi pepatah lama yang mengatakan "berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian". saya malah berpikir, "untuk apa kita berenang kalau ada rakit!" ...hehe...

Ini persoalan pilihan cara berfikir, bukan seberapa jeniusnya Anda merancang strategi yang akan membuat Anda ingin terlihat hebat, namun, pada akhirnya Anda lelah dalam kegagalan. 

Jika diibaratkan kita ingin bertamasya ke tempat wisata yang akan ditempuh dengan kendaraan umum misalnya Bus, dan dengan jarak tempuh ketempat tujuan yang lumayan jauh. 

Dengan niat ingin menikmati pemandangan dan suasana alam disana. 

Langkah pertama yang baik dalam hal ini menurut saya adalah menemukan Bus yang paling nyaman sesuai kondisi keuangan kita. 

Lalu bagaimana kita akan mampu menikmati situasi serta suasana di dalam Bus dan diluar Bus saat dalam perjalanan. 

Kita harus benar-benar peka terhadap hal-hal kecil untuk mencari cara agar kita bisa menikmati kondisi apapun yang akan terjadi dan terlihat saat dalam perjalanan, jika kita tidak ingin merasa bosan, terasa waktu perjalanan begitu lama, lalu kelelahan atau bahkan sakit ketika kita sampai di tujuan wisata tersebut. 

Alih-alih menikmati wisata, mungkin kita akan lebih tersiksa karena mungkin kondisi tubuh kita yang tidak lagi sehat saat kita tiba ditempat tujuan. 

Kalau sudah begitu, pasti akan berpengaruh pada hal-hal lain terkait kenyamanan dan ketenangan pikiran kita.

Namun berbeda jika diperjalanan saja kita sudah mendapat ketenangan dan kenyamanan yang bisa kita nikmati, pastinya dong, kita akan mendapatkan kenikmatan berlipat-lipat saat sesampainya di tempat tujuan. 

Perjalanan yang lumayan jauh pun terasa sangat dekat, bahkan saat perjalanan kembali kerumah pun kita akan kembali terhibur oleh indahnya perjalanan kembali. Sekarang pilihan ada pada diri kita.

Saya lebih memilih berpikir sederhana dengan tetap melibatkan Tuhan dalam segala hal tentunya, walau tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. 


Tapi setidaknya kita sudah mencoba menyederhanakannya dan sudah berusaha untuk tidak membuang-buang tenaga yang mungkin masih sangat kita butuhkan di panjangnya perjalanan perjuangan kita. 

Untuk hasil akhirnya biarkan Tuhan yang mengurusnya. Karena kita semua tahu bahwa "Tuhan maha memelihara dan maha mengurusi makhluk-Nya". 

Tugas kita hanya memilih cara-cara terbaik yang paling disukai-Nya. Dan saya tetap yakin bahwa sederhana itu sangat indah. 

Sekarang mari kita sama-sama mengubah cara berpikir kita, jangan pernah mau terus menerus mengejar impian saja, namun harus juga bisa menikmatinya ketika masih dalam perjalanan dan saat menjemputnya. 

Sederhanakanlah semua hal yang terlihat sulit mulai sekarang. Selamat mengejar dan menjemput impian Anda.

Terimakasih dari kami, kami sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Anda disitus ini.   

Medan, 22 Februari 2019

By : siju . Owner " m a L u L u p a " 

KOMENTAR